Perempuan di Garis Depan Transisi Energi: Kontribusi Nyata Peneliti UPER untuk Masa Depan Bangsa
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai penghormatan atas perjuangan emansipasi perempuan. Namun lebih dari sekadar perayaan simbolis, semangat Kartini kini hidup dalam wujud yang jauh lebih konkret: para ilmuwan, insinyur, dan peneliti perempuan yang bekerja keras di laboratorium, lapangan, dan ruang-ruang kebijakan untuk menjawab tantangan terbesar abad ini—transisi energi dan perubahan iklim.
Data dari International Renewable Energy Agency (IRENA) tahun 2025 mencatat bahwa representasi perempuan di sektor energi terbarukan global telah mencapai 32 persen, dengan 19 persen di antaranya menduduki posisi kepemimpinan strategis. Angka ini bukan hanya statistik—ia adalah cermin dari pergeseran paradigma yang tengah terjadi di industri energi dunia. Kepemimpinan perempuan bukan lagi pengecualian, melainkan kebutuhan nyata untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.
Enam Sosok yang Menggerakkan Perubahan
Di Universitas Pertamina (UPER), semangat itu terwujud melalui enam peneliti perempuan yang bekerja lintas disiplin ilmu—dari geologi hingga ekonomi, dari teknik kimia hingga komunikasi—untuk mengawal transisi energi Indonesia dari hulu ke hilir.
Dr. Dumex Sutra Pasaribu dari Fakultas Teknologi Eksplorasi dan Produksi memfokuskan kepakarannya pada pemodelan struktur bawah permukaan bumi. Melalui pendekatan Analogue Sandbox Modelling (ASM) dan Palinspastic Restoration, ia membantu memetakan integritas reservoir yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan teknologi penyimpanan karbon (CCS/CCUS) dan energi panas bumi. Pemahaman mendalam tentang rekahan dan lipatan bumi bukan sekadar ilmu tektonik masa lalu—ia adalah kunci keselamatan teknologi energi masa depan.
Sementara itu, Dr. Nonni Soraya Sambudi, yang masuk dalam daftar Top 2 Percent Scientists Worldwide 2025 versi Stanford University, menggarap wilayah material di tingkat molekuler. Melalui riset nanomaterial dan fotokatalis, Dr. Nonni berkontribusi dalam mempercepat pembersihan emisi dan produksi energi bersih. Baginya, masa depan industri energi terletak pada kemampuan mengolah limbah menjadi sumber daya baru dalam sistem ekonomi sirkular.
Dari Baterai Bekas hingga Limbah Bernilai
Gelombang adopsi kendaraan listrik yang semakin deras membawa konsekuensi yang kerap luput dari perhatian: tumpukan baterai lithium-ion bekas yang berpotensi menjadi masalah lingkungan serius. Dr. Nila T. Berghuis dari Fakultas Sains dan Ilmu Komputer hadir menjawab tantangan ini. Risetnya pada regenerasi baterai Li-ion bekas memastikan bahwa transisi menuju energi hijau tidak melahirkan beban ekologis baru. Prinsipnya sederhana namun kuat: setiap komponen teknologi harus tetap bernilai dan berdaya guna.
Assoc. Prof. Dr. Mega Mutiara Sari dari Teknik Lingkungan mengambil pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi. Ia meneliti tata kelola lingkungan industri dan teknologi Waste-to-Energy (WtE), mengubah limbah yang selama ini dianggap beban menjadi sumber energi terbarukan. Pendekatannya berbasis keberlanjutan penuh: tidak hanya soal efisiensi teknis, tetapi juga dampak sosial bagi masyarakat sekitar dan pemulihan ekosistem jangka panjang.
Wajah Kemanusiaan Transisi Energi
Teknologi secanggih apapun tidak akan mengubah masyarakat jika tidak ada yang menjembataninya. Dr. Farah Mulyasari dari Fakultas Komunikasi dan Diplomasi memainkan peran vital ini. Strategi edukasi dan pendekatan humaniorayang ia kembangkan bertujuan memastikan setiap inovasi energi dapat diterima dan dipahami secara luas oleh publik. Dalam pandangannya, transisi energi yang berhasil adalah yang menjadi gerakan budaya, bukan sekadar kebijakan teknis dari atas.
Dimensi terakhir namun tak kalah krusial dijaga oleh Dr. Eka Puspitawati dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Ia memantau dampak ekonomi dari kebijakan energi—mulai dari hilirisasi biodiesel hingga dinamika pasar nikel sebagai bahan baku baterai. Baginya, teknologi hijau harus berjalan seiring dengan keterjangkauan harga dan keadilan ekonomi, agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Inklusivitas sebagai Kekuatan Institusi
Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa kontribusi para peneliti perempuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan dari nilai inti institusi. UPER membangun ekosistem akademik yang menjunjung tinggi inklusivitas dan kolaborasi lintas disiplin, di mana setiap gagasan dinilai berdasarkan kualitas risetnya, bukan jenis kelamin penelitinya.
Keenam srikandi UPER ini adalah bukti hidup bahwa warisan Kartini hari ini tidak cukup hanya dirayakan—ia harus terus dihidupi melalui karya, riset, dan dedikasi nyata. Mereka tidak sekadar berdiri di balik pintu yang pernah dibuka Kartini; mereka sedang membangun pintu-pintu baru untuk generasi yang akan datang.
Untuk melihat daftar program studi dan informasi pendaftaran terbaru, Anda dapat langsung mengakses laman resmi admisi Universitas Pertamina melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/admisi?src=101 dan mulai merencanakan langkah akademik terbaik Anda.
